FRITZ FARADAY

 

 

Profil Singkat

Fritz Faraday atau yang dikenal dengan panggilan mrfritzfaraday lahir di Jakarta, 23 Juli 1990 silam dan merupakan anak sulung dari 2 bersaudara. Fritz yang terlahir di keluarga ber-etnis Batak, tanpa sadar terdidik oleh kebiasaan ibunya yang sangat menyukai  musik dan selalu memutarkan lagu keroncong maupun lagu-lagu tradisional batak di saat pagi hari maupun disaat Fritz kecil tidur. Tanpa sadar pula kedekatannya dengan musik dan dunia seni diawali oleh orangtuanya yang selalu memberanikannya untuk tampil bernyanyi di depan umum bahkan memasukkannya ke sanggar fashion show (catwalking) dan tari si usianya yang ke-8 tahun, dari situ bakatnya makin terasah dan berkembang hingga akhirnya di usianya yang ke-14 tahun, Fritz menyaksikan acara MTv Ampuh dan melihat video klip “Sephia” dari grup musik Sheila on 7. Momen tersebutlah yang menjadi starting point karier bermusik dan gitarnya bersama Blitzkrieg di kancah musik nasional.

 

Perjalanan Bermusik

Fritz Faraday dikenal sebagai gitaris metal progresif dari grup band Blitzkrieg yang didirikannya pada tahun 2009 ditengah-tengah kejenuhan dan pemberontakannya terhadap perkuliahannya di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia, Universitas Indonesia. Blitzkrieg merupakan “lidah” yang berbicara kepada banyak orang tentang  tekad kuatnya untuk mengejar mimpinya menjadi musisi professional dan juga memberanikan orang lain untuk tetap berjuang menjalani passion mereka masing-masing.

Pertama kali mengenal gitar di usia 14 tahun (2004), Fritz tidak langsung memilih progresif metal maupun rock/metal sebagai aliran yang menjadi preferensi dan referensi terbesar dalam bermusik, melainkan sangat menggandrungi musik pop Indonesia yang kala itu diisi oleh banyak talenta yang kini melegenda, seperti: Sheila on 7, Dewa 19, Padi, Gigi dan masih banyak lagi. Perkenalannya dengan musik keras berawal 3 tahun setelahnya setelah mendengarkan hits dari band rock asal Inggris Alter Bridge yang berjudul “Open Your Eyes” yang merupakan band pecahan Creed. Di tahun yang sama pula sedang berlangsung ajang pencarian band di salah satu stasiun televisi swasta yang menampilkan punggawa dari D’Bandhits saat ini, Pupun Dudiyawan yaitu Kapten. 

Minatnya pada dunia shredding diawali oleh kekagumannya terhadap 2 sosok yang  menjadi panutannya saat ini, yaitu: Mark Tremonti (Alter Bridge) dan Pupun Dudiyawan (Kapten/ D’Bandhits). Mereka berdualah yang banyak sekali memberikan referensi tentang shredding kepada perkembangan playability seorang Fritz Faraday.

Semenjak saat itu, Fritz sangat jatuh cinta kepada musik rock/metal dan terus mencari referensi juga mengembangkan diri untuk bisa terus bermain musik dan kelak mempunyai sebuah band yang akan mengantarkannya lebih dekat kepada cita-citanya hingga akhirnya banyak mendengarkan karya-karya gitaris legendaris, seperti: Edward Van Halen (Van Halen), Carlos Santana, Yngwie J. Malmsteen, Joe Satriani, dan yang paling mempengaruhi beberapa karyanya, John Petrucci (Dream Theater), Mark Morton (Lamb of God) dan Andy James (Sacred Mother Tongue). 

Terbatasnya waktu, preferensi dan juga keyakinannya untuk kelak berada di level yang sama dengan para idola diataslah yang pada akhirnya membuatnya untuk lebih memilih untuk menciptakan karya original daripada mengcover karya mereka. Hingga pada akhirnya terciptalah sebuah lagu progresif metal pertamanya yang kala itu berdurasi 12:53 menit yang berjudul “The Brutality of a Rocker’s Rampage”. Lagu ini pula yang menghantarkan langkah kakinya untuk memenangi lomba-lomba band di saat masih SMA dan juga mendapatkan gelar gitaris terbaik pada festival-festival tersebut. Lagu ini juga mengisi album perdana Blitzkrieg “The Energy of Anger” di tahun 2010.

Perjalanannya dalam bermusik sangat berliku karena pemegang gelar Sarjana Teknik Kimia jebolan Universitas Indonesia ini harus mengalami tantangan dari orangtuanya sendiri yang tidak terlalu setuju dengan cita-citanya menjadi musisi professional dan mengharuskannya untuk menyelesaikan perkuliahannya terlebih dahulu, bahkan sampai mengirim Fritz untuk melanjutkan perkuliahannya di Curtin University, Perth-Australia Barat pada tahun 2011 disaat album perdananya baru saja released. Akan tetapi, berkat kegigihan, keteguhan hati, iman, doa dan kepercayaannya terhadap kuasa Tuhan, Fritz akhirnya tetap bisa menyelesaikan perkuliahannya di Teknik Kimia dengan tetap berkarier bersama Blitzkrieg sepulang dari Australia dan kembali ke Universitas Indonesia di tahun 2012. Pada tahun itu pula, Blitzkrieg menjadi salah satu band pembuka bagi Super Group “PSMS” (Mike Portnoy-Billy Sheehan-Tony MacAlpine-Derek Sherinian), selanjutnya menjadi band pembuka untuk “Grave” band Death Metal asal Swedia kemudian tampil di Jakarta Guitar Festival 2013 bersama pemenang kompetisi Guitar Idol 2009 asal Thailand, Jack Thammarat juga gitaris fingerstyle asal Inggris, Mike Dawes.   

Kiprah Fritz Faraday bersama Blitzkrieg juga cukup baik dengan menjadi headlining performer di banyak event di Indonesia. Selain itu, Fritz Faraday juga menjadi salah satu model untuk photo shoot majalah GitarPlus dan Greese Premium Rock Clothing.

 

Gaya Permainan

Modernitas, Metal, Shred, Progresif, Originalitas, Kompleksitas dan Senar 7 merupakan ciri khas yang paling tepat untuk menggambarkan gaya permainan gitar seorang Fritz Faraday. Banyak dipengaruhi oleh Dream Theater, Lamb of God, Blotted Science, Protest The Hero, Symphony X, Periphery, Threat Signal, dan band-band metal modern lain, karya cipta dan permainan gitar Fritz Faraday dalam karya-karyanya akhirnya menunjukkan perbedaan dengan gitaris-gitaris lainnya. Kesukaannya untuk menciptakan alur cerita dalam karya, Riff-riff liar  dan unison njelimet tetapi tetap memikirkan sisi melodius dari lagu tersebut adalah kunci dari segarnya aliran progresif metal yang diusungnya bersama Blitzkrieg dibandingkan dengan band-band progresif metal Indonesia lainnya yang kebanyakan sangat berkiblat dan bertitik berat kepada Dream Theater.

Progresif yang metal, modern dan nge-Riff merupakan inti dari permainan gitar futuristic yang selalu didemonstrasikan seorang Fritz Faraday dalam setiap karya-karyanya bersama Blitzkrieg, hingga akhirnya mendapatkan julukan “The Spiderfingers” dari teman-temannya di komunitas dan juga sesama gitaris.

 

Visi-Misi Bermusik

“Musik merupakan Hidup” itulah yang selalu tertanam dan juga terbersit dalam pikiran Fritz ketika ditanya ditanya tentang arti musik untuknya. Gitaris 24 tahun ini juga menganut paham Soekarno-isme yang sangat yakin akan daya saing orang Indonesia dengan orang-orang di mancanegara. Visinya sangat ambisius untuk membawa Blitzkrieg bersama modernitas progresifnya untuk berjaya di dunia internasional. 

Didalam benaknya, musisi-musisi Indonesia merupakan talenta-talenta yang sangat handal dan mampu untuk bersaing di dunia musik Internasional, hanya saja support yang minim dari para penikmat musik di Indonesia, dimana mereka lebih suka mengagung-agungkan karya dari band luar negri ketimbang mensupport band dalam negri, minimnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan musisi dan kesempatan yang kecil untuk Go-Internasional-lah yang mempersulit musisi-musisi dalam negeri untuk berkembang pesat melebarkan sayap seperti para musisi luar negri.

Misi terbesar dari seorang Fritz Faraday adalah membuktikan pada dunia bahwa musik progresif metal Indonesia juga layak mendapatkan apresiasi dan juga dapat mempunyai fan base di berbagai negara seperti band-band asal Amerika, Inggris dan lain sebagainya.